CONNECT WITH US

Esai film: Ada apa dengan AADC 2?

Apa yang dikatakan AADC 2 tentang kita, penontonnya?

Editor : Ade Irwansyah | Reporter : Ade Irwansyah

Storibriti.com - SPOILER ALERT! PERINGATAN: Esai ini mengandung bocoran cerita AADC 2, panjangnya lebih dari 5.300-an kata, dan dibutuhkan sekitar 20 menit untuk membacanya sampai tuntas.


1.
Ada Apa dengan Cinta 2 atau AADC 2 terus menciptakan rekor. Film tersebut mendatangkan 200 ribu penonton di hari pertama edar 28 April lalu; kemudian setelah empat hari edar jumlahnya genap jadi satu juta penonton; dan setelah delapan hari naik jadi dua juta penonton.

Ini artinya, bila dirata-rata sehari AADC 2 mampu meraup 250 ribu penonton ke bioskop dalam waktu delapan hari edar.

Angka-angka itu rekor tersendiri untuk ukuran film Indonesia.

AADC 2 juga bisa membuktikan, film lokal tetap diminati penonton bioskop meski berhadap-hadapan dengan film blockbuster Hollywood. Terbukti, AADC 2 tak sepi peminat meski ada Captain America: Civil War tayang berbarengan. Praktis, bioskop hanya diisi dua film itu saja.

Pertanyaannya, kenapa AADC 2 begitu diminati banyak penonton?

Tulisan khusus lain tentang AADC

Jawaban mudahnya, orang penasaran dengan kelanjutan cinta antara Rangga dan Cinta setelah empat belas tahun lalu terpisah di bandara di AADC pertama yang rilis 2002.

Tapi benarkah hanya rasa penasaran yang mendatangkan orang berduyun-duyun ke bioskop?

 

Jika hanya rasa penasaran, dua-tiga hari setelah filmnya rilis sudah bertebaran spoiler atau bocoran ceritanya di dunia maya. Toh bocoran itu tak mencegah penonton AADC 2 menurun.

Tulisan ini tak hendak sekadar menjawab pertanyaan di atas. Melainkan juga membedah isi filmnya yang menurut penulis problematis.

Demi kepentingan membedahnya, penulis memohon maaf bila di tulisan ini akan terdapat sejumlah bocoran cerita. Untuk itu, penulis sarankan, esai ini dibaca setelah menonton filmnya.

Sebelum membedah filmnya, yang menarik ditelisik terlebih dahulu adalah pembuat dan penonton AADC (baik pertama dan kedua). Pembuat AADC adalah duet Mira Lesmana dan Riri Riza. Mira dan Riri memproduseri AADC pertama. Kursi sutradara diisi Rudi Soedjarwo. AADC 2 disutradarai Riri dan diproduseri Mira.

 

Namun sekadar menyebut nama produser dan sutradaranya saja tak cukup. Kita perlu tahu bagaimana Mira, Riri, dan juga Rudi lahir sebagai sineas negeri ini.

Bila hendak dicari akarnya bisa kita tarik ke masa awal kemunculan rezim Orde Baru. Setelah gonjang-ganjing politik yang dilatari perang ideologi, pembunuhan massal terhadap 500 ribu-1 juta orang yang ditengarai simpatisan PKI, dan konstelasi Perang Dingin di jagat global, Soeharto muncul sebagai pemenang. Ia menamakan rezim militer-otoritarian bentukannya Orde Baru, sambil menyebut rezim sebelumnya sebagai Orde Lama.

Seperti dijelaskan A. Tjahjo Sasongko dan Nug Katjasungkana saat memaparkan panjang lebar sejarah musik rock di Indonesia (Prisma, 1991), Orde Baru menitikberatkan pada “pembangunan ekonomi.” Jenis pembangunan ini menempatkan titik berat pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan modal asing sebagai generatornya.

Soeharto di tahun 1970-an.
© 2016 storibriti.com/istimewa/istimewa

 

Kondisi sosial politik yang aman dan tertib menjadi prasyarat jenis pembangunan ini. Maka diambillah langkah-langkah depolitisasi demi terwujud “stabilitas nasional.” Kita melihat, pada 1970-an jumlah partai politik dilebur jadi tiga, dengan pemenang utama sudah ditentukan sebelum pemilu: Golongan Karya (Golkar) yang menyokong pemerintah Soeharto. Pada 1970-an sempat ada protes mahasiswa serta kerusuhan Malari. Namun gangguan itu bisa diberangus dengan cepat. Mahasiswa yang menjadi motor penggerak kelahiran Orde Baru kemudian dikotakkan ke dalam kampus, tak dibolehkan lagi memprotes pemerintah.

Berbeda dengan rezim sebelumnya, Orde Baru relatif terbuka pada Barat. Budaya populer Barat--seperti film dan musik--yang sebelumnya dilarang, kembali diizinkan masuk. Gaya hidup Barat kemudian mulai diadopsi kembali oleh pemuda-pemudi Indonesia. Musik rock and roll, yang sebelumnya dikatai musik “ngak-ngik-ngok” oleh Sukarno, jadi musik kegemaran anak muda.

Kemudian pada 1970-an terjadi “boom minyak”, harga minyak dunia meningkat tajam. Indonesia sebagai negara pengekspor minyak bumi kena berkahnya. Boom minyak ini dinikmati oleh hampir semua orang tetapi tidak merata. Golongan atas memperoleh lebih banyak dibanding golongan bawah. Kelompok sosial yang paling diuntungkan oleh “pembangunan ekonomi” Orde Baru adalah para pejabat negara, para pengusaha non-pribumi yang punya koneksi dengan penguasa, dan pengusaha pribumi yang dapat fasilitas negara.

Selain mereka yang kena berkah boom minyak, di masa “stabilitas politik” tahun 1970-an itu telah bangkit dan kemudian berkembang “kelas menengah perkotaan.” Golongan bergaji ini terdiri dari pegawai negeri sipil (termasuk akademisi dan guru) serta kaum profesional, yakni karyawan kantoran.

Karena gajinya yang tinggi, sebagian uang mereka dibelanjakan pada barang dan jasa yang tergolong mewah. Karena kebutuhan dasar mereka telah terpenuhi, kemudian muncul berbagai sarana penunjang kebutuhan sekunder dan tersier. Maka, di berbagai kota muncul night club modern, pusat-pusat pertokoan, berbagai jenis majalah seperti majalah hiburan dan wanita, serta radio swasta. Perkembangan ini terkait erat dengan kemunculan kelas menengah kota.

Jakarta tahun 1970-an.
© 2016 storibriti.com/istimewa/istimewa

 

Mira Lesmana lahir 1964, sedang Riri Riza lahir 1970. Pada masa kecil dan masa awal remaja mereka di tahun 1970-an keduanya diuntungkan oleh boom minyak. Dikatakan Sasongko dan Katjasungkana:

“Anak-anak golongan yang banyak diuntungkan boom minyak tersebut turut menikmati kemakmuran dari orangtuanya. Mereka memiliki uang yang cukup banyak sehingga terciptalah pasar bagi golongan ini. Mereka mengkonsumsi barang-barang modern seperti motor, radio, stereo set, alat-alat musik. Mereka juga melakukan kegiatan hura-hura (non-politis) dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Di masa sebelum Orde Baru, kegiatan yang tersedia bagi kaum muda sifatnya politik, seperti aktif di organisasi kepemudaan, mahasiswa atau lainnya. Di masa Orde Baru, dengan adanya depolitisasi maka kegiatan politik tak lagi seperti sebelumnya. Yang berpolitik sangat terbatas jumlahnya.

Di masa Orde Baru muncul golongan orang muda yang relatif makmur dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan non-politis. Mereka inilah, kata Sasongko dan Katjasungkana, yang dinamakan remaja. Dan di Indonesia, remaja bukanlah soal umur, tetapi soal gaya hidup.

Saat rezim relatif terbuka pada Barat, maka kaum muda perkotaan Indonesia, yakni remaja tadi, yang berasal dari keluarga yang mendapat bagian dari boom minyak kemudian meniru gaya gaya hidup kaum muda Barat. Termasuk urusan budaya populernya.

Klik NEXT untuk tahu lebih banyak.
(ai)



WHAT DO YOU THINK